Melintasi Jalur 1.000 Tikungan, Menuju Check Point Kedua

Melintasi Jalur 1.000 Tikungan
(Menuju Check Point Kedua)

Pada pagi hari, Pomala menawarkan pada kami cuaca yang berbeda, sejuk sebentar lalu tiba-tiba bikin gerah. Kelurahan Dawi-dawi letaknya tepat menghadap ke laut, embusan angin laut berkelahi dengan awan di langit Pomalaa yang selalu lebih tebal dari kecamatan lain di kabupaten Kolaka. 

Di sini ada Aktivitas pertambangan dan pengolahan Nikel PT. Antam yang beroperasi sejak tahun 1968. Menjelang pukul 9 pagi, Suhunya semakin panas. Tapi, tak ada pilihan lain, saya harus membiasakan diri dengan keadaan seperti ini, sebagaimana orang-orang yang menetap di sini.

Pomalaa adalah kecamatan terkaya di Kabupaten Kolaka. Saya cukup akrab dengan lorong-lorongnya karena pengalaman pernah tersesat. Kunjungan pertama saya sekitar tahun 2012, saat itu saya melakukan perjalanan dengan Motor Honda CB 100. Bikers menyebutnya dengan istilah touring. Karena saya sendirian, saat itu teman-teman menyebut solo touring selatan tembus tenggara. Menyebrang menggunakan Kapal Veri dari Bajoe Kabupaten Bone Sulawesi Selatan ke Pelabuhan Kolaka. 

Kantuk pagi yang menyerang, saya manjakan dengan tidur meskipun kurang dari sejam,  Setelah benar-benar siap, Kami melanjutkan perjalanan lewat pukul 10 sedikit. Si Putih melesat lagi, mengarungi rute By Pass Ujung Dawi-dawi ke ujung by Pass yang tak jauh dari Pelabuhan Kolaka. Pintu keluar dari Kota kabupaten Kolaka. 

Bahan bakar sudah saya isi penuh. Tak ada bensin yang dijual di Kolaka, saya selalu merasa terpaksa untuk membeli bahan bakar jenis Pertalite. Sejak Pertalite mendominasi persediaan dan penyaluran bahan bakar, saya tidak pernah berhasil untuk mendapatkan Bensin di sini. Sejak 2 tahun terakhir. Meski Kolaka Utara lebih menjanjikan, saya memilih untuk waspada. Tidak ada jaminan ketersediaan bahan bakar selalu ada, di sana.

Saya menyetel GPS di Aplikasi Maps untuk menghitung jarak dan waktu tempuh, lalu saya sesuaikan dengan kecepatan berkendara. Kolaka ke Kolaka Utara kondisi jalannya hampir seluruhnya adalah tikungan yang tak pernah habis kelokannya. Pada marka jalan, bahkan kita dianjurkan hanya pada kecepatan 60-70km perjam. 

Saya seringkali tidak menaati anjuran ini. Mencuri kecepatan di beberapa titik yang saya anggap aman untuk memacu kendaraan. Di jalur ini, kita akan dimanjakan dengan kondisi jalan yang mulus, jauh lebih mulus dari kondisi jalan yang ada di jalur Kolaka Timur dan Kolaka, atau sebaliknya. Jalur Kolaka Utara sangat memanjakan kendaraan.

Ada pos pemeriksaan kesehatan di dekat Tamborasi, tepat di jalur sebelum pendakian yang menjadi perbatasan antara Kolaka dan Kolaka Utara.  Saat itu hampir jam 12 siang, yang berjaga hanya 1 orang petugas kepolisian. Kami diminta berhenti. Sebelum petugas itu bicara, saya langsung menunjukkan Surat Keterangan Berbadan Sehat dalam kondisi terlipat. Dia bertanya "apakah suratnya lengkap?" Saya jawab dengan penuh percaya diri, surat itu tidak dibukanya, tidak dibacanya, berarti aman.

Saya menyerahkan secarik kertas yang sebelumnya diberikan oleh petugas yang berjaga di pos pemeriksaan sebelum memasuki Kolaka dari arah Kolaka Timur. Kurang dari 1 menit, kami dipersilahkan untuk melanjutkan perjalan. Saya semakin mengagumi surat sakti yang sebelumnya saya dapatkan segara gratis ini. Padahal, di banyak tempat, surat sakti semacam ini dibandrol hingga setengah juta perorangan. Kami berlima di dalam kendaraan.

Di perbatasan ini, Fikar, adik saya takjub dengan pemandangan laut luas terbuka yang dilihatnya dari ketinggian. Perbatasan Kabupaten berada di jalur hutan, ada beberapa posisi ketinggian yang menawarkan pandangan yang terbuka. Saat ia berencana mengambil foto dari kendaraan yang terus bergerak, saya bercerita kepadanya tentang bagaimana saya dan kakaknya menikmati keindahan yang seperti ini. Ia lalu mengurungkan niatnya untuk mengambil foto.

Di wilayah Kabupaten Kolaka Utara, ada 3 tempat yang berada di ketinggian yang menawarkan pemandangan laut terbuka di jalan poros. Letaknya di perbatasan Tamborasi, di jalur sebelum markas Brimob, dan di lengkungan huruf K pulau Sulawesi. Tempat yang paling indah diantara ketiganya, menurut saya adalah yang berada di desa terakhir, sebelum hutan  yang merupakan perbatasan Sulawesi Tenggara dan Selatan. 

Tidak jauh dari perbatasan, petugas di pos pemeriksaan kembali memberhentikan kami. Protapnya persis dengan dengan yang ada di wilayah sebelum memasuki Kabupaten Kolaka, meski tidak sama ketatnya kami tetap mengikuti seluruh arahannya. Petugas juga memberhentikan sebuah mobil mewah, kode platnya Sulawesi Selatan (DD). Sopir atau penumpangnya tidak ada yang turun dari mobil, petugas membiarkannya lewat begitu saja setelah bicara- bicara sebentar. Saya melihatnya sebagai keganjilan, saya biarkan saja keanehan ini dengan senyum kecut, sembunyi-sembunyi.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Tidak lama, semua penumpang sudah tertidur lagi.  Sejak meninggalkan pos pemeriksaan terakhir, telepon dan pesan whatsApp terus berdering. Saya mengabaikannya, dalam hati saya berujar, kawan ini harus diberi kejutan. Toh lokasinya sudah dia kirimkan, saya percaya diri untuk tidak tersesat saat mencari alamat rumahnya. Teman di Lasusua menawarkan kopi, kue khusus dan jamuan makan siang. Teman di Lapai yang jarak tempuhnya 1 jam dari Lasusua juga menawarkan hal serupa, bahkan katanya sudah disiapkan sejak sebelum duhur. 

Waktu tempuh Ke Lasusua 1 jam lagi. Di tiap persinggahan tidak boleh lebih dari 1 jam. Saya mulai berhitung dengan rapat. Tidak boleh ada janji yang diingkari, semua harus ditunaikan. Saat itu sudah pukul 1 siang. Kami tidak mau kena gelap di perbatasan. Kecepatan saya tambahkan, saya melanggar lagi imbauan di Marka jalan. Suhu tubuh juga semakin meninggi, 35 cc di Kolaka, 36 cc di Kolaka Utara. Saya semakin dumba-dumba. Ternyata, saya demam.

COMMENTS

"BELAJAR ITU SEUMUR HIDUP"
Banner99
Name

--V,1,Ahmad Muthahier,1,Amrul Nasir,1,Andhika Mappasomba,5,Aprinus Salam,1,Azizaturahmi Madil,1,bookstore,1,buku,2,Celoteh,18,Cerpen,9,Citizenship,1,Citra Deviyanti,1,Cucum Cantini,2,Dwi Novita Rahayu,1,Essai,13,Ettanya Ain,16,Faika Burhan,1,Film,1,Inspiratif,1,Irhyl Makkatutu,1,Ismail Fathar Makka,1,Iwan Djibran,1,Kendari,2,La Hingke,1,La Ode Gusman Nasiru,1,Lailatul Qadriani,6,Literasi,1,Muhammad Agung,2,Muhammad Yusuf Abdan,1,Novel,1,Nurul Mutmainnah,1,Penerbitan,1,Puisi,5,Raya Pilbi,2,Reportase,13,Resensi Buku,1,Review,5,Ridwan Demmatadju,1,Salim Kramat Alverenzo,1,Sinopsis,1,SOGI,1,Terbitan,6,Yusuf IW,1,
ltr
item
Rumah Bunyi : Melintasi Jalur 1.000 Tikungan, Menuju Check Point Kedua
Melintasi Jalur 1.000 Tikungan, Menuju Check Point Kedua
https://1.bp.blogspot.com/-Ku4wMpwZgcM/XuZW_cNeJhI/AAAAAAAAApU/ZCZmHtysPzAIvp0TIKKWKQIMgZdkw2PRACK4BGAsYHg/s320/maxresdefault.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Ku4wMpwZgcM/XuZW_cNeJhI/AAAAAAAAApU/ZCZmHtysPzAIvp0TIKKWKQIMgZdkw2PRACK4BGAsYHg/s72-c/maxresdefault.jpg
Rumah Bunyi
https://www.rumahbunyi.com/2020/06/melintasi-jalur-1000-tikungan-menuju.html
https://www.rumahbunyi.com/
https://www.rumahbunyi.com/
https://www.rumahbunyi.com/2020/06/melintasi-jalur-1000-tikungan-menuju.html
true
2473427367586082924
UTF-8
Lihat Semua Tulisan Halaman Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batalkan Hapus Oleh Home HALAMAN ARTIKEL LIHAT SEMUA ARTIKEL LAINNYA LABEL ARSIP PENCARIAN SEMUA TULISAN Tulisan yang Anda cari tidak ditemukan. Kembali Ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy Semua Code Pilih Semua Code Semua Code Telah Ter-copy Code/Teks Tidak Dapat Ter-copy, Silahkan Tekan [CTRL]+[C] (Atau CMD+C di Mac) Untuk Copy