Melingkar di Masa Pandemi dari Tenggara Ke Selatan

Melingkar di Masa Pandemi dari Tenggara Ke Selatan
(Check Point Pertama)


Perjalanan kali ini terasa sangat berbeda. Ada banyak kejutan manis yang kami dapati sebagai pengalaman baru. Perjalanan ini bukanlah perjalanan pertama kami, 2-3 kali dalam setahun kami melakukan perjalanan melingkar ini, sejak 2017. Sebagai pembeda, saya akan berusaha untuk menceritakannya dengan sudat pandang pengalaman pertama, seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Jatuh yang membekas di hati dan layak disebut kenangan.

Kami Berangkat lebih awal (jam 3 dini hari), Ini adalah catatan perjalanan yang biasa saja. Yang setiap orang bisa saja mengalaminya saat melakukan perjalanan melalui darat, menyetir sendiri dari Sulawesi Tenggara ke Sulawesi Selatan yang jarak tempuhnya 1.300 km melawti lengkungan huruf K pulau Sulawesi, menyusuri panorama teluk Bone. Hanya saja terasa spesial karena direquest oleh orang yang spesial.

Dari kota Kendari ke Kabupaten Bulukumba kita akan melewati beberapa Kabupaten/kota. Rute yang kami pilih Kendari- Konawe-Kolaka Timur-Kolaka-Kolaka Utara. Lalu selanjutnya memasuki Sulawesi Selatan, yaitu Luwu Timur-Luwu Utara-Palopo-Luwu-Wajo-Sidrap-ParePare-Barru-Pangkep-Maros-Makassar-Gowa-Takalar-Jeneponto-Bantaeng, lalu tujuan akhir adalah Kabupaten Bulukumpa.

Sehari sebelumnya, saya mengurus Surat Keterangan Berbadan Sehat dari Puskesmas Poasia, Fasilitas Kesehatan yang Pelayanan sangat bersahabat, murah senyum, cepat dan sangat mudah. Surat keterangan berbadan sehat ini adalah syarat mutlak dan sangat penting jika kita berencana melakukan perjalan lintas kabupaten ataupun lintas provinsi. Baik melalukan perjalanan darat, laut dan udara. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah terkait penyebaran dan pengendalian Pandemi Covid-19.

Saya mengingat sebuah catatan yang ditulis oleh Ernest Hemingway yang menceritakan pengalamannya saat berpetualang memancing. Ada sebuah negara, yang mewajibkan surat keterangan khusus jika ingin memancing di tempat tersebut. Ribetnya proses mengurus administrasi berupa surat ijin memancing, terkadang membuat orang-orang mengurungkan niatnya. Bahkan diceritakannya, pernah ada yang ngotot untuk pergi memancing tapi tidak memiliki surat ijin, orang itu harus berurusan dengan hukum, dipenjara dan membayar denda ketika ia tertangkap basah oleh petugas yang berpatroli.

Demikianlah kondisinya, tanpa dibekali surat keterangan berbadan sehat, maka bersiaplah untuk memutar balik, atau bahkan ditahan oleh petugas karena dianggap tidak patuh pada aturan yang telah ditetapkan. Saya mengamininya hanya sampai saat saya melihat dan mengalami sendiri bagaimana kondisinya di lapangan. Di beberapa kota/kabupaten yang konsisten menerapkan aturan ini.

Dari rute Kendari ke Konawe, tantangan pertama ada pada pengerjaan jalan yang sedang berlangsung. Sebelum berangkat, saya mengkonfirmasi teman-teman di sosial media perihal kondisi jalanan di Pondidaha yang sebelumnya dikabarkan susah untuk dilalui oleh kendaraan yang tipe sedan. Dan memang betul, saya kesulitan untuk melaluinya, beberapa kali mobil kami kandas karena kubangan lumpur yang bergelombang.

Menjelang subuh, kami tiba di jalur berkelok-kelok sebelum kecamatan Mowewe. Pemandangan Kabut tebal menjemput kami. Jarak pandang kurang 20-30 meter. Dengan kondisi jalanan yang hampir keseluruhannya adalah mendaki dan penurunan, dan tentu saja tikungan, maka berhati-hati dengan konsentrasi penuh adalah keharusan. Apalagi jika kantuk sesekali datang menghampiri. Opsi yang saya lakukan adalah memperbanyak minum. Cara ini sangat efektif untuk mengusir kantuk.

Di rute berkelok-kelok, saya merasakan kalau sepertinya hutan bernyanyi untuk kami. Beberapa burung bisa saya kenali dari jenis kicauannya. Saat kondisi sudah mulai terang, Saya bahkan melihat seekor lanceng (sejenis kera) beberapa kilometer sebelum memasuki portal pemeriksaan kesehatan Kabupaten Kolaka, Sebelum jembatan besar dan panjang pertama setelah kecamatan Mowewe.

Meski masih sangat pagi, saya melihat puluhan petugas yang sudah bersiaga. Ada Petugas dari kepolisian, Satpol-PP, dan petugas kesehatan yang menggunakan pakaian APD lengkap. Di pos pemeriksaan ini, kami ditanyai tentang Surat Keterangan Berbadan Sehat, lalu dipersilahkan untuk mencuci tangan di tempat yang disediakan khusus. Pemandangannya mirip dengan Tempat Pemungutan Suara kala Pemilu. Setiap tahapannya dijaga oleh orang-orang dengan tugas khusus. Bahkan mulai saat parkir/baru tiba. Sudah bisa menduga, siapa yang berada di bagian parkir memarkir kan?

Selanjutnya kmi diminta untuk menuju ke Petugas kesehatan untuk diperiksa suhu tubuh, menjawab pernyataan seputar data diri dan rencana perjalanan. Setelah itu, kami diberi secarik kertas untuk kami tunjukkan kepada petugas yang berjaga di pos penjagaan di perbatasan selanjutnya, di daerah Utara. Saat Ia menulis, ia mengatakan bahwa kertas ini harus ditunjukkan pada petugas yang berjaga di daerah Tamborasi, perbatasan Kolaka dan Kolaka Utara. Dalam hati saya bergumam, sepertinya kondisi ini benar-benar serius, seperti memasuki daerah konflik yang biasa kita temukan di Film-film yang bertemakan perang dunia kedua.

Sekitar pukul setengah 7, kami memasuki kota kabupaten Kolaka. Tidak jauh dari Kampus USN, kami mampir. Saya selalu tertarik dengan panganan yang dijual didekat situ. Jualannya beranekaragam, saya pilih Songkolo dan taripang, yang lain lebih memilih nasi kuning sebagai sarapan.

Setelah menghabiskan makanan, kami menuju ke Pomalaa, Check Point pertama kami. Rumah kakak tempat beristirahat, lokasinya tak jauh dari Kompleks PT. Antam. Dekat dari jalur By Pass yang juga memanjakan kita dengan pemandangan laut dan pulau yang berdiri kokoh. Jalur yang berada tetap di pinggir laut.

COMMENTS

"BELAJAR ITU SEUMUR HIDUP"
Banner99
Name

--V,1,Ahmad Muthahier,1,Amrul Nasir,1,Andhika Mappasomba,5,Aprinus Salam,1,Azizaturahmi Madil,1,bookstore,1,buku,2,Celoteh,18,Cerpen,9,Citizenship,1,Citra Deviyanti,1,Cucum Cantini,2,Dwi Novita Rahayu,1,Essai,13,Ettanya Ain,16,Faika Burhan,1,Film,1,Inspiratif,1,Irhyl Makkatutu,1,Ismail Fathar Makka,1,Iwan Djibran,1,Kendari,2,La Hingke,1,La Ode Gusman Nasiru,1,Lailatul Qadriani,6,Literasi,1,Muhammad Agung,2,Muhammad Yusuf Abdan,1,Novel,1,Nurul Mutmainnah,1,Penerbitan,1,Puisi,5,Raya Pilbi,2,Reportase,13,Resensi Buku,1,Review,5,Ridwan Demmatadju,1,Salim Kramat Alverenzo,1,Sinopsis,1,SOGI,1,Terbitan,6,Yusuf IW,1,
ltr
item
Rumah Bunyi : Melingkar di Masa Pandemi dari Tenggara Ke Selatan
Melingkar di Masa Pandemi dari Tenggara Ke Selatan
https://1.bp.blogspot.com/-QNs6tMkGI_E/XuUYUwF5HzI/AAAAAAAAApA/tQhDSoAjTaIVRrTJgiPdO0WYX_DwuO8MwCNcBGAsYHQ/s1600/images%2B%25282%2529.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-QNs6tMkGI_E/XuUYUwF5HzI/AAAAAAAAApA/tQhDSoAjTaIVRrTJgiPdO0WYX_DwuO8MwCNcBGAsYHQ/s72-c/images%2B%25282%2529.jpeg
Rumah Bunyi
https://www.rumahbunyi.com/2020/06/melingkar-di-masa-pandemi-dari-tenggara.html
https://www.rumahbunyi.com/
https://www.rumahbunyi.com/
https://www.rumahbunyi.com/2020/06/melingkar-di-masa-pandemi-dari-tenggara.html
true
2473427367586082924
UTF-8
Lihat Semua Tulisan Halaman Tidak Ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batalkan Hapus Oleh Home HALAMAN ARTIKEL LIHAT SEMUA ARTIKEL LAINNYA LABEL ARSIP PENCARIAN SEMUA TULISAN Tulisan yang Anda cari tidak ditemukan. Kembali Ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy Semua Code Pilih Semua Code Semua Code Telah Ter-copy Code/Teks Tidak Dapat Ter-copy, Silahkan Tekan [CTRL]+[C] (Atau CMD+C di Mac) Untuk Copy